Sejarah Kesultanan Lankat

5 months ago admin 0

Kesultanan Langkat
كسولطانن لڠكت

Kesultanan Langkat diperkirakan berdiri pada abad ke 16 M. Nama Langkat berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Pohon langkat memiliki buah yang lebih besar dari buah langsat namun lebih kecil dari buah duku dan rasanya pahit. Pohon ini dahulu banyak dijumpai di tepian Sungai Langkat yaitu di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura.

Teromba Kesultanan Langkat menyatakan bahwa nama leluhur dinasti Langkat yang paling awal adalah Dewa Syahdan. Diperkirakan masa kekuasaannya tahun 1500 – 1580 M. Menurut teromba Langkat, Dewa Syahdan datang dari arah pantai yang berbatasan dengan Kerajaan Aceh. Ia menjadi anak beru dari Sibayak Kota Buluh di Tanah Karo. Kemudian ia dikenal dengan gelar Sibayak Si Pintar Ukum oleh orang-orang Karo, menurut pihak Karo ia marga Perangin-angin Kuta Buluh. Ia mempunyai regalia rantai emas buatan Aceh buatan dan kain Minangkabau.

Dewa Syahdan mempunyai seorang putra bernama Dewa Sakti. Ia bergelar Kejeruan Hitam. Ada pendapat yang menyatakan ialah “Indra Sakti” adiknya Putri Hijau di Deli Tua yang diserang Aceh. Dewa Sakti mangkat digantikan oleh putranya, yang setelah mangkatnya bergelar Marhom Guri (mungki sekali di Merah Milu kepada orang haru yang menentang Sultan Aceh Saidi Mukamil). Dimakamkan di Buluh Cina, Hamparan Perak sekarang. Dewa Sakti hilang raib kemungkinan tewas dalam penyerangan Aceh, peristiwa penyerangan ini diperkirakan pada tahun 1539 M.

Di masa Kerajaan Langkat, para keturunan pembesar Aru yang masih berada di Besitang, Aru I, kembali membangun reruntuhan kerajaan yang sudah luluh lantak. Kawasan Besitang kemudian menjadi kejuruan yang berada dalam lingkup Kerajaan Langkat. Kejuruan ini memiliki kawasan sampai ke Salahaji. Sedangkan Kerajaan Langkat sendiri meluaskan wilayahnya sampai ke Tamiang dan Seruai.

Besitang kemudian dikenal sangat setia pada Kerajaan Langkat. Ia kerap menjadi palang pintu bagi pihak lain yang ingin melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Langkat, seperti serangan dari Gayo dan Alas.

Pada tahun 1612 M Dewa Sakdi yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh. Dewa Sakti digantikan oleh anaknya Sultan Abdullah yang lebih dikenal dengan nama Marhum Guri.

Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur kemudian wafat dan dimakamkan di Buluh Cina Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Selanjutnya, tahta Kerajaan Langkat jatuh pada anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673 -1750 M). Di zaman Raja Kahar, pusat Kerajaan Langkat dipindahkan dari Kota Rentang Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang.

Pada tahun 1673 M Sultan Abdullah digantikan oleh Raja Kahar. Beliau adalah pendiri Kesultanan Langkat dan berzetel di Kota Dalam Secanggang, daerah antara Stabat dengan Kampung Inai pada pertengahan abad ke 18 M.

Berpedoman kepada tradisi dan kebiasaan masyarakat Melayu Langkat, maka dapatlah ditetapkan kapan Raja Kahar mendirikan Kota Dalam yang merupakan cikal bakal Kesultanan Langkat kemudian hari.

Pada tahun 1750 M Raja Kahar Mangkat diangkatlah Badiulzaman Sutan Bendahara sebagai Raja Langkat dan Sutan Husin menjadi raja di Bahorok. Saat Sutan Bendahara memimpin, kesultanan Langkat berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya.

Badiulzaman bergelar Sutan Bendahara, seorang yang berpribadi kuat dan denagn cara damai telah memperluas daerahnya. Ia dimakamkan di Punggai, bergelar Marhom Kaca Puri.

Badiulzaman mempunyai 4 orang putra yaitu Kejeruan Tuah Hitam, Raja Wan Jabar yang mendirikan Selesai, Syahban di Punggai dan Indra Bongsu yang tetap bersama Kerjeuran Hitam tinggal di Kota Dalam.

Keempat orang putra ini membantu ayahandanya memerintah. Ketika Badiulzaman meninggal dunia ia digantikan oleh putranya yang tertua Kejeruan Tuah Hitam. Ia menetap di Jentera Malai, sebauh kampung dekat Kota Dalam.

Pada awal abad ke 19 M serangan bertubi tubi dari Siak Sri Inderapura membuat Kesultanan Langkat takluk.

Pada tahun 1823 M dalam catatan Zainal Arifin, pasukan Tuah Hitam bergabung dengan Sultan Panglima Mengedar Alam dari Kesultanan Deli. Tujuannya untuk merebut kembali Kerajaan Langkat dari Siak Sri Inderapura dan Belanda. Tetapi, dalam perjalanan kembali dari Deli, Tuah Hitam meninggal.

Sementara itu, Kesultanan Siak Sri Inderapura membuat gerakan untuk menjamin kesetiaan Kesultanan Langkat yaitu dengan mengambil anak Tuah Hitam, Nobatsyah, dan anak Indra Bongsu, Raja Ahmad. Keduanya dibawa ke Kerajaan Siak Sri Inderapura untuk diindoktrinasi dan dikawinkan dengan putri-putri Siak. Nobatsyah kawin dengan Tengku Fatimah dan Raja Ahmad kawin dengan Tengku Kanah.

Setelah itu, keduanya dipulangkan kembali dan menjadi raja ganda di Kerajaan Langkat. Nobatsyah diberi gelar Raja Bendahara Kejuruan Jepura Bilad Jentera Malai dan Raja Ahmad bergelar Kejuruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat.

Seperti sudah diperkirakan, kepemimpinan ganda Nobatsyah dan Raja Ahmad menuai pertikaian. Sengketa kekuasaan berujung pada meninggalnya Nobatsyah di tangan Raja Ahmad.

Pada tahun 1824 M Raja Ahmad menjadi Raja Kerajaan Langkat. Di zaman Raja Ahmad, pusat Kerajaan Langkat dipindahkan ke Gebang.

Pada pertengahan abad 19 M. Kesultanan Aceh menggalang kekuatan dari negara di Sumatera Timur untuk menghadang laju gerakan Belanda bersama pembesar-pembesar Siak. Di masa ini, negara-negara di Sumatera Timur seperti Kesultanan Deli, Kesultanan Serdang (yang merupakan pecahan dari Deli), dan Kesultanan Asahan menyambut baik ajakan Kesultanan Aceh untuk memerangi Belanda. Bahkan ada yang mengibarkan bendera Inggris sebagai simbol perlawanan.

Akan tetapi hanya Kesultanan Langkat lah yang menolak seruan perang sabil itu, meski Kejuruan Bahorok mengobarkan api pada rakyat untuk berperang dengan Belanda. Bahkan Sultan Musa meminta bantuan Belanda – Siak untuk menghantam Kejuruan Stabat karena bekerjasama dengan Kesultanan Aceh.

Saat Kesultanan Langkat menuai kontroversi, Kejuruan Besitang tetap menampilan kesetiaannya. Dalam catatan Zainal Arifin, ketika Tengku Musa banyak mendapat serangan, termasuk dari Raja Stabat, Bahorok, dan Bingai, Besitang tetap menjadi perisai bagi Kesultanan Langkat. Meski demikian, ada juga sejumlah petinggi Besitang yang mengorganisasikan rakyat untuk menentang Belanda, walau kemudian diredam.

Tengku Musa atau Sultan Musa memiliki tiga orang anak, yakni Tengku Sulong yang menjabat Pangeran Langkat Hulu, Tengku Hamzah yang menjabat Pangeran Langkat Hilir, dan Tengku Abdul Aziz.

Dalam tradisi kerajaan, anak tertua adalah pewaris tahta. Namun, Sultan Musa tak melakukan itu. Kemudian tahta diberikan kepada Tengku Hamzah Al Haz untuk menggantikan posisinya, tetapi Tengku Hamzah bukanlah dari istri seorang Keturunan Bangsawan dan juga dikarenakan ada tarik menarik kekuatan politik dimasa itu dimana Tengku Hamzah menentang kekuasaan Belanda.

Pada tahun 1870 M Raja Ahmad tewas karena diracun. Dan anaknya, Tuanku Sultan Haji Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah), naik menjadi Sultan Langkat I. Di masa Tengku Musa inilah Kesultanan Langkat banyak mendapat tekanan, baik dari Aceh maupun negeri tetangga di dalam Kesultanan Langkat sendiri.

Perkawinan Tengku Musa dan Tengku Maslurah memang perkawinan politik. Setelah Langkat menggempur Bangai, maka sang permaisuri diambil oleh sang pemenang. Akan tetapi, Maslurah tetap meminta syarat, yakni anak dari perkawinannya dengan Sultan Musa kelak haruslah menjadi Raja Langkat.

Tindakan Sultan Musa melahirkan protes dari anak-anaknya yang lain, terutama Tengku Hamzah. Sempat terjadi upaya kudeta, namun tak berhasil. Tengku Hamzah lalu memisahkan diri dari Istana Kesultanan Langkat Darul Aman dan membangun istananya sendiri di Kota Pati. Karena posisinya yang berada di tanjung atau persimpangan, maka Tengku Hamzah juga dikenal sebagai Pangeran Tanjung. Dan tak jauh dari istana, ada sebuah pura atau pintu gerbang tempat para anak raja mandi di sungai. Dan kemudian disebut Tanjung Pura.

Tengku Hamzah kemudian memiliki seorang putra bernama Tengku Pangeran Adil. Pangeran Adil dikenal pemberani dan sangat membenci Belanda. Dan dari Pangeran Adillah lahir anak bernama Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang kelak turut menggelorakan gerakan anti kolonialisme.

Pada tahun 1896 M Tengku Musa memberikan tahtanya pada si bungsu, Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah menjadi Sultan Langkat II, meski belum dilantik karena alasan usia yang terlalu muda.

Pada tahun 1899 M Masjid Azizi dibangun atas anjuran Syekh Abdul Wahab Babussalam pada masa pemerintahan Sultan Musa Al Muazzamsyah. Masjid ini dibangun setelah 149 tahun sejak Langkat resmi berdiri sebagai Kesultanan, namun Sultan Musa wafat sebelum pembangunan masjid selesari dilaksanakan. Pembangunan diteruskan oleh putranya yang bergelar Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah (1897-1927 M) Sultan Langkat ke 7.

Rancangan masjid ditangani oleh seorang arsitek berkebangsaan Jerman, para pekerjanya banyak dari etnis Cina dan masyarakat Langkat sendiri. Sedangkan bahan bangunan didatangkan dari Penang, Malaysia dan Singapura (Tumasik) dengan menggunakan kapal ke Tanjungpura.

Pada masa itu sungai Batang Serangan masih berfungsi baik dan kapal-kapal dengan tonase 600 ton dapat melayarinya.

Masjid Azizi diresmikan sendiri oleh Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan perubahan Kerajaan menjadi kesultanan Langkat pada tahun 1902 M menghabiskan dana sekitar 200.000 Ringgit dan dinamai Masjid Azizi sesuai dengan nama Sultan Abdul Aziz Djalil Rachmat Syah.

Pada tahun 1907 M Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah menandatangani politik kontrak dengan Belanda yang diwakili oleh Jacob Ballot selaku Residen van Sumatra Oostkust. Dalam perjanjian ini langkat dibagi menjadi daerah Sultan yang terdiri dari Pulau Koempei, Pulu Sambilan, Tapa Koeda, Pulu Masjid dan pulau kecil di dekatnya, Kedjoeroean Stabat, Kedjoeroean Bingei, Kedjoeroean Selesei, Kedjoeroean Bohorok, daerah dari Datu Lepan, dan daerah dari Datu Besitang.

Pada tahun 1927 M putra dari Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rakhmat Shah yaitu Tengku Mahmud yang bergelar Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah mangkat sebagai Sultan Langkat III pada di Istana Darul Aman, Tanjung Pura.

Pada tahun 1921 M Tengku Mahmud memindahkan lagi pusat Kerajaan atau Kesultanan Langkat ke Binjai karena alasan banjir dan mendirikan istana baru di sana.

Di masa Sultan Mahmud, tepatnya pada saat Jepang masuk dan Belanda pun tersungkur, sejumlah catatan menunjukkan penderitaan rakyat. Rakyat diperas dan diperbudak untuk mengerjakan proyek Jepang (Romusha). Di sini tak ditemukan bagaimana relasi, kontestasi, dan peta politik Langkat dengan negara tetangga.

Pada tanggal 29 Oktober 1945 M, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen (Bupati) Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatera, Mr. Tengku Muhammad Hasan.

Dan pada Maret 1946 M terjadinya Revolusi Sosial di Langkat. Dan akhirnya orang orang besar di langkat banyak mati terbunuh oleh komunis Indonesia (PKI).

Sumber Follow My Instagram: satria.melayu